JIKA TIDAK ASLI, UANG ANDA KAMI KEMBALIKAN 100% | 0812-1532-3196 | Pin BB: D09CB79A

Sakit Tenggorokkan? Apa Saja Penyebabnya?

Menelan adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, bahkan kita bisa menelan ludah puluhan kali dalam hitungan menit. Kecuali saat kita sedang sakit tenggorokan yang membuat menelan air pun terasa nyeri.

Sakit pada tenggorokan adalah salah satu alasan paling umum orang pergi ke dokter, jauh di atas tekanan darah tinggi, masalah punggung, dan ruam. Gangguan ini dapat bersiap akut, datang tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari, bahkan bulan.

Penyebab sakit tenggorokan masih membingungkan, bahkan bagi dokter. Jika gejala yang dialami menetap atau parah, segera konsultasikan ke dokter. Berikut adalah beberapa penyebab tersering sakit pada tenggorokan, menurut John Ingle, dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan.

1. Pilek
Infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus seperti pilek adalah penyebab paling umum dari sakit tenggorokan akut. Biasanya diawali dengan iritasi tenggorokan atau hidung tersumbat. Kemudian muncul gejala lain seperti batuk, bersin, dan hidung meler, dan dapat berdampak pada rasa sakit di belakang kepala, kata Dr Ingle.

Beberapa virus ini bisa langsung menyerang tenggorokan Anda, yang dapat menyebabkan ulserasi (luka) kecil yang terbentuk pada lapisan halus faring, yang terletak di amandel.

"Hal ini dapat memicu sensasi terbakar yang terus berlanjut, bahkan ketika Anda sedang tidak menggunakan tenggorokan", kata Ibrahim Alava, MD, asisten profesor di departemen otorhinolaryngology kepala dan leher di University of Texas Health Science Center di Houston Medical School.

Selain virus, iritasi juga bisa terjadi karena batuk atau membuang dahak. Dalam hal ini, tenggorokan Anda akan biasanya hanya merasa sakit ketika Anda menelan. Obat-obatan, cukup istirahat dan minum bisa membantu mengurangi gejala flu dan dalam beberapa hari kita akan merasa nyaman kembali.

2. Flu
Sakit tenggorokan bukanlah suatu gejala atau ciri utama yang muncul dari virus influenza, tetapi dapat muncul saat flu menyerang. Seperti salesma, batuk juga dapat mengiritasi tenggorokan dan menyebabkan rasa sakit.

Salah satu perbedaan flu dan salesma, salesma biasanya datang secara bertahap. Sementara flu terjadi lebih tiba-tiba.

"Anda dapat mengalami sakit tenggorokan pada keduanya, tapi jika ini bersamaan dengan flu maka hal tersebut akan lebih parah," kata Dr Ingle. "Anda mungkin akan merasakan nyeri 
tubuh, demam tinggi, dan kelelahan."

3. Infeksi bakteri
Sakit tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti radang tenggorokan atau tonsilitis (amandel) bisa berakibat menjadi parah. Anda mungkin paling akrab dengan radang tenggorokan, yang merupakan sekitar 10 persen dari keluhan sakit tenggorokan akut pada orang dewasa.

Berbeda dengan salesma, Anda tidak akan mengalami bersin, hidung mampet, atau batuk dengan radang tenggorokan. Anda akan mengalami sakit tenggorokan yang dimulai dengan cepat dan dapat menyebabkan rasa sakit saat menelan. Anda juga akan mengalami bau mulut, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher.

Buatlah janji dengan dokter Anda jika Anda memiliki gejala yang parah atau mengalami demam. Pemeriksaan fisik akan menunjukkan adanya nanah yang terdapat pada bagian belakang amandel Anda. Hal ini merupakan sinyal bahwa sel darah putih Anda sedang melawan bakteri, kata Alava. (Cobalah untuk mengamati kondisi tenggorokan Anda menggunakan cermin.

Namun kebanyakan orang sering tertipu oleh batu putih kecil di amandel atau bahkan partikel makanan, yang mereka kira nanah)

"Antibiotik direkomendsasikan dalam dosis tertentu guna melawan dan membunuh infeksi," kata Alava.

4. Mononucleosis
Mononucleosis atau mono, dikenal sebagai penyakit berciuman, karena penyakit ini ditularkan melalui air liur. Penyakit ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr dan paling sering terjadi pada orang muda.
Mono tergolong penyakit yang sulit untuk didiagnosis, karena bisa datang dengan cepat atau secara bertahap, kata Dr Ingle. Gejala umum yang terjadi termasuk sakit tenggorokan, demam, kelelahan yang signifikan, dan bengkak pada leher dan kelenjar ketiak. Gejalanya dapat berfluktuasi, dan dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Kadang-kadang mono bisa tampak sangat mirip dengan radang tenggorokan. Jika Anda berpikir bahwa itu adalah radang dan segera mengkonsumsi antibiotik tertentu, maka Anda dapat mengalami campak seperti ruam.

Mono dapat diketahui dengan melakukan test yang disebut dengan tes monospot, tetapi tidak ada pengobatan untuk virus ini, "Anda harus menunggu dan secara perlahan kondisi Anda akan menjadi lebih baik," kata Alava.

Jika Anda mengalami nyeri yang signifikan pada tenggorokan, dokter mungkin akan memberikan Anda steroid. Hal ini akan membantu untuk mengurangi peradangan dan memungkinkan Anda untuk menelan lebih mudah.

5. Alergi
Alergi yang disebut dengan rhinitis alergi (hay fever) biasanya muncul dengan gejala seperti bersin, mata berair, dan hidung meler. Kondisi ini muncul setelah Anda menghirup alergen seperti serbuk sari, debu, atau bulu yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada tenggorokan.

Biasanya kita akan merasakan gatal atau menggelitik di tenggorokan, bukan terasa sakit. Walau begitu, kondisinya akan lebih buruk selama kontaminasi alergen terus terjadi.

Makanan tertentu juga bisa menjadi biang keladinya, dan tanda-tanda yang begitu halus mungkin tidak dihubungkan dengan apa yang Anda makan. Hal ini termasuk dalam iritasi tenggorokan, gatal, atau masalah perut seperti kram atau diare.

Jika Anda melihat gejala ini setelah makan makanan tertentu terutama setelah mengkonsumsi kacang-kacangan, buah jeruk, biji-bijian, atau susu, maka Anda perlu meminta dokter untuk melakukan tes alergi. Alergi makanan dapat muncul pada usia berapa pun, bukan hanya pada anak-anak.

6. Laryngopharyngeal Reflux
Laryngopharyngeal refluks, atau LPR, mirip dengan penyakit gastroesophageal reflux (GERD), kecuali bahwa hal itu mempengaruhi tenggorokan. Hal ini dikenal sebagai "silent reflux," karena sering tidak menimbulkan gejala yang khas, seperti mulas atau asam lambung.

Pada LPR, asam atau cairan pencernaan akan naik melalui kerongkongan, dan tenggorokan, sehingga akan mengiritasi jaringan halus. Perut dan kerongkongan memiliki mekanisme pelindung yang membantu menetralkan asam, setidaknya hal ini dapat hal ini dapat melindungi tenggorokan.

"Ini lebih sensitif. Bahkan jumlah kecil asam yang sampai ke tenggorokan dapat menyebabkan banyak iritasi," kata Ingle.

Sebagai hasilnya, Anda akan mengalami sakit tenggorokan atau suara serak, yang keduanya lebih buruk di pagi hari. Anda juga dapat mengalami batuk kering, dan memiliki perasaan bahwa Anda memiliki benjolan atau sepotong makanan di tenggorokan.

Gejala ini dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Saat Anda terdiagnosis mengalami LPR, maka dokter akan merekomendasikan untuk memeriksa pH atau jumlah enzim pencernaan di tenggorokan Anda. Kondisi ini dapat diobati dengan antasida atau reduksi asam lambung. Mengkonsumsi makanan rendah lemak, diet kurang pedas, menghindari alkohol dan kafein juga dapat membantu mengurangi dampak yang dihasilkan.

7. Udara Kering
Udara dingin yang kering dapat mendatangkan malapetaka bagi tenggorokan. Pemanas udara akan menimbulkan banyak kelembaban di udara yang bisa membuatnya lebih menjengkelkan ketika dihirup.

Jika Anda harus bernafas melalui mulut, entah karena alasan hidung tersumbat atau jika mulut Anda terbuka saat tidur maka akan memiliki risiko yang lebih besar. "Jika Anda tidak bernapas melalui hidung, udara kering akan melalui mulut Anda dan cenderung mengiritasi tenggorokan dan membuatnya lebih kering," Ingle.

Kondisi ini akan menyebabkan tenggorokan terasa gatal dan kasar, terutama ketika Anda bangun. Langkah yang dapat Anda lakukan yaitu dengan cukup minuma air putih, karena ini dapat membantu lapisan mulut dan tenggorokan tetap lembab saat Anda tidur.

Memasukkan humidifier (alat pelembab udara) ke kamar tidur Anda juga dapat membantu. Tetapi jika masih menunjukkan gejala, mungkin Anda harus segera memeriksakannya ke dokter, kemungkinan Anda mengalami masalah tidur yang parah.

8. Ketegangan Otot
Anda mungkin pernah kehilangan suara setidaknya sebayak satu atau dua kali setelah Anda berteriak-teriak seusai menonton bola atau konser. Tapi ternyata kita juga bisa sakit tenggorokan hanya karena menggunakan otot-otot tenggorokan tidak tepat.

Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang mengharuskannya untuk terus-menerus berbicara sepanjang hari. Hal ini akan menyebabkan otot tenggorokan menjadi tegang. Jika kondisi ini terus berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, maka akan berkembang menjadi sakit tenggorokan kronis.

9. Tumor Tenggorokan
Setiap orang berisiko mengalami kanker pada tenggorokannya. Kondisi ini juga berhubungan dengan kebiasaan merokok atau minum minuman keras.

Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa rasa sakit atau nyeri di tenggorokan, suara serak yang tidak membaik selama 2 minggu, kesulitan menelan makanan atau air liur, penurunan berat badan, kesulitan bernapas, atau batuk darah.

"Seringkali saat ada tumor atau kanker, sakit tenggorokan dimulai dari kondisi yang ringan," kata Ingle. "Ini tidak pernah hilang dan semakin buruk dari waktu ke waktu."

Jika Anda memiliki gejala-gejala tersebut, sangat penting untuk melakukan CT scan, tapi mungkin lebih baik untuk melihat juga kondisi telinga, hidung, dan tenggorokan.

Namun penanganan lain yang bisa dilakukan salah satunya dengan laringoskopi. Cara ini dilakukan menggunakan kamera yang dimasukkan melalui hidung, sehingga memungkinkan dokter untuk melihat bagian tenggorokan untuk melihat tanda-tanda adanya kanker. Hal ini lebih efektif dan lebih murah daripada CT scan dan membuat Anda tidak mengalami pengaruh dari radiasi.

buah merah




@



0 komentar:

Poskan Komentar - Kembali ke Konten

Sakit Tenggorokkan? Apa Saja Penyebabnya? | Buah Merah | Buah Merah Papua